Chromebook, Senjata Pemusnah Pembajakan Software?


Jakarta – Sampai hari ini Indonesia masih tercatatat dalam 10 negara yang masuk dalam 301 Priority Watch List yang dikeluarkan oleh Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (US Trade Representative) tahun 2011.

Dalam laporan tersebut Indonesia disebut cukup berusaha menegakkan hukum namun masih belum mampu menangani kasus pembajakan. Selain Indonesia, negara lain yang masuk dalam daftar ini adalah Kanada, China, Rusia, Israel, India, Thailand dan beberapa negara lainnya.

Pembajakan di negeri ini juga mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2009 jumlah pembajakan program di PC sebesar 86%, maka tahun 2010 lalu angka ini naik menjadi 87%. Penelitian mengenai pembajakan ini sebagaimana dilaporkan oleh Business Software Alliance (BSA) yang bekerja sama dengan IDC dalam ‘Studi Pembajakan Software Global 2010.’

Menghadapi ini, sebenarnya pemerintah tidak tinggal diam. Salah satu wujud kepedulian pemerintah adalah seperti yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Konvensi Nasional Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam rangka peringatan Hari HKI Sedunia, 26 April 2011 lalu.

Dalam pidatonya Presiden meminta agar masyarakat menghormati dan memberikan perlindungan pada pemilik hak kekayaan intelektual agar kreativitas anak bangsa terus terpacu. Selain itu, Presiden juga meminta POLRI, Kejaksaan dan Kemenko Polhukam untuk bekerja sama memberantas pembajakan di tanah air.

Apakah itu saja cukup? Sayangnya tidak.

Razia, denda, atau bahkan mungkin penangkapan bukanlah senjata yang cukup ampuh untuk mengatasi pembajakan. Di manapun di belahan bumi ini, pemberantasan pembajakan hanya akan ampuh jika dilakukan dari sumbernya.

Chromebook Samsung

Google Chromebook

Salah satu hal yang cukup menjadi perhatian dalam acara Google I/O 2011 lalu adalah Chrome OS yang dijabarkan dengan lengkap dalam keynote pada hari kedua. Sebagaimana diketahui, Chrome OS adalah sistem operasi berbasis Linux yang dikembangkan dengan wujud seperti browser Chrome. Chrome OS sendiri merupakan hasil dari proyek open source bernama Chromium OS.

Sifat Chrome OS adalah komputer berbasis awan (cloud) dimana komputer yang menjalankannya, disebut Chromebook, tidak memerlukan hard-drive berukuran besar karena instalasi program disimpan dalam internet.

Chromebook merupakan implementasi komputasi awan untuk perorangan dan instalasi program hanya dapat dilakukan dengan mengakses Webstore yang berisi daftar program.

Selama ini pembajakan software berkisar pada proses cracking software sehingga nantinya akan menghasilkan installer/program jadi berupa file yang dapat disebarkan dari satu komputer ke komputer lain menggunakan media penyimpanan. Ketika akhirnya dipasang, komputer dikelabui sehingga program ilegal ini dapat diinstal dan dijalankan layaknya program legal.

Model pembajakan seperti ini tidak dapat diterapkan dalam Chromebook karena adanya pusat program yaitu Webstore.

Program hasil crack yang dibuat dan disebarkan menggunakan media penyimpanan tidak akan dapat masuk ke dalam Webstore lantaran gagal di level approval sehingga tidak dapat diinstal dalam Chromebook. Karena tidak dapat diinstal inilah maka pembajakan software menjadi tidak berguna yang pada akhirnya akan mematikan industri pembajakan software untuk PC.

Chromebook Acer

Komputasi Awan

Komputasi awan adalah teknologi menjanjikan yang sudah ada di depan mata. Masyarakat pun nampak antusias menyambut teknologi yang sebenarnya telah ada sejak lama dalam wujud lebih kecil, tak terkecuali masyarakat di Indonesia.

Dengan komputasi awan, komputer yang kita miliki pun hanya menjadi semacam piranti klien sederhana yang kita gunakan untuk mengakses kebutuhan yang berpusat di server. Dengan arsitektur seperti ini, pengguna hanya memiliki akses terbatas dan mau tak mau harus menyerahkan kepercayaan sepenuhnya pada pemegang server.

Hal inilah yang menjadikan komputasi awan menuai protes dari beberapa kalangan di antaranya adalah Richard Stallman, pendiri dan pemimpin Free Software Foundation (FSF). FSF adalah organisasi yang mengusung free software movement dimana salah satu misinya adalah menjadikan user memiliki kuasa penuh atas komputer pribadinya.

Dalam dunia komputasi awan, pengguna tidak memiliki akses penuh dan tidak tahu dengan lengkap akan komputer miliknya. Hal ini tentu dapat berdampak pada banyak hal seperti keamanan data, privacy, integrasi maupun ketahanan (reliability).

Manakah yang harus dipilih? Pemberantasan pembajakan menggunakan komputasi awan dengan Chromebook yang memiliki akses terbatas?

Atau menggunakan komputer konvensional dan tetap memiliki akses penuh terhadap komputer pribadi? Pilihan ada di tangan penggunanya.

sumber:detikInet

Perihal indra027
Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan S1-Informatika Universitas Haluoleo Angkatan 2009

Berikan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: